atika_blog lovely
Just another weblog
 
 

Posted on December 7th, 2012 at 8:11 am by ATIKA NASTAINA UTAMI

Laporan Praktikum ke-3 Hari/tanggal: Sabtu /10 November 2012
m.k Pengetahuan Bahan Baku Asisten : Nurokhmatunnisa
Industri Hasil Perairan

LAPORAN FIELDTRIP PENGETAHUAN BAHAN BAKU
INDUSTRI HASIL PERAIRAN
DI PALABUHAN RATU, SUKABUMI, JAWA BARAT

Atika Nastaina Utami
C34110022

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan Negara maritim yang memiliki laut yang cukup luas. Dua per tiga dari wilayah Indonesia adalah perairan. Laut Indonesia memiliki potensi sumberdaya yang besar terutama potensi perikanan laut dari segi jumlah ataupun keragaman jenis. Luas laut Indonesia kurang lebih 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Laut Indonesia yang luas menyediakan sumberdaya ikan laut dengan potensi lestari sebesar 6,4 juta ton per tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Jumlah tangkapan yang diperbolehkan di Indonesia sebesar 80% dari potensi lestari sumberdaya ikan laut yaitu sebesar 5,12 juta ton (Nurjanah et al. 2011).
Indonesia memiliki beberapa tempat pelabuhan perikanan, diantaranya adalah pelabuhan ratu. Pelabuhan Ratu adalah sebuah tempat wisata di pesisir Samudra Hindia di selatan Jawa Barat. Lokasinya terletak sekitar 60 km ke arah selatan dari Kota Sukabumi. Topografi pantainya berupa perpaduan antara pantai yang curam dan landai, tebing karang terjal, hempasan ombak, dan hutan cagar alam. Karena tempat ini mempunyai daya tarik sendiri, Presiden Soekarno mendirikan tempat peristirahatannya pada tahun 1960 di Tenjo Resmi. Selain itu, atas inisiatif Soekarno pula didirikanlah Samudera Beach Hotel, salah satu hotel mewah pertama yang dibangun di Indonesia pada kurun waktu yang sama dengan Hotel Indonesia, Bali Beach Hotel, dan Toko Serba Ada “Sarinah”, yang kesemuanya menggunakan dana pampasan perang dari Jepang. Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu(PPN Palabuhanratu) adalah salah satu pelabuhan perikanan yang dibangun pemerintah pusat guna menunjang aktivitas perikanan yang memfanfaatkan sumberdaya ikan yang ada di wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 9 Samudra Hindia, melayani kapal-kapal yang sedang melakukan operasi penangkapanikan di daerah penangkapan ikan (fishingground)dengan menyampaikan informasi yang diperlukan oleh nelayan, seperti informasi mengenai prakiran potensi daerah penangkapan ikan, harga ikan, kondisi cuaca melalui radio komunikasi atau alat elektronik lainnya, melakukan pelayanan terhadap kapal-kapal perikanan baik untuk keberangkapan maupun pada saat kedatangan dan saat berada di pelabuhan, memfasilitasi kegiatan pengelolaan ikan guna mempertahankan mutu ikan yang didaratkan. Sehingga layak dikonsumsi, memfasilitasi kegiatan pemasaran ikan sehingga memperoleh harga yang wajar melalui kegiatan pelelangan ikan. Selain itu fungsi PPN Palabuhanratu adalah untuk memperlancar kegiatan distribusi ikan kedaerah konsumen, melakukan pembinaan terhadap masyarakat perikanan melalui pelatihan-pelatihan dan pembinaan usaha nelayan. Semuatugas yang dilakukan oleh PPN Palabuhanratu tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, efesiensi dan pertumbuahan usaha perikanan guna meningkatkan pendapatan nelayan dan kesejahteraannya, meningkatkan penerimaan dan devisa, mendorong perluasan dan kesempatan kerja, meningkatkan ketersediaanmutu, nilai, daya saing dan kunsumsisumebr protein ikan mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya ikan dan meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk industry pengelolaan ikan serta melakukan pengendalian dan pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan seperti kegiatan statistic perikanan dan pemeriksaan dokumen kapal perikanan (KKP 2012).
1.2 Tujuan
Praktikum lapang yang dilakukan bertjuan mengetahui tempat pelelangan ikan yang ada di Pelabuhan Ratu, perusahaan-perusahaan yang bergerak didunia perikanan dan kelautan baik di bidang pengolahan, pembudidayaan, dan pengawetan.

2 METODOLOGI
2.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan Fieldtrip ke Palabuhan Ratu, Sukabumi dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 November 2012 pukul 06.00-11.30 WIB. Tempat yang dikunjungi adalah tempat pelelangan ikan (TPI) Pelabuhan Ratu pukul 06.00-07.00 WIB, Ruang Seminar KKP, PT Jaya Mitra, PT AGB, Pemindangan Hj. Iroh, Tempat Pembesaran Lobster Hj. Badri, dan Budidaya dan Pengolahan Ikan Sidat di SLK (Stasiun Lapang Kelautan).

2.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan berupa alat tulis, buku, kamera, dan alat perekam. Bahan yang digunakan beberapa ikan yang ada di TPI Palabuhan Ratu, Sukabumi.

2.3 Prosedur kerja
Prosedur kerja dalam melaksanakan praktek lapang di Palabuhan ratu ini menggunakan pengumpulan data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer (langsung pada lokasi) adalah dengan observasi atau pengamatan langsung kegiatan pendaratan, penanganan ikan, dan proses produksi. Observasi jenis ikan yang telah ditentukan (ikan tongkol) dan jenis-jenis ikan lain yang terdapat di TPI Palabuhanratu. Wawancara dengan pihak yang berhubungan langsung dengan para pedagang sekaligus nelayan di area TPI (tempat pelelangan ikan). Tanya jawab dengan Menteri KKP Pak Rukmana atas penjelasannya tentang TPI Palabuhanratu. Partisipasi langsung di perusahaan PT. Jaya Mitra dan PT. AGB mengenai kegiatan yang berhubungan dengan produksi ikan. Kunjungan tempat pemindangan, budidaya dan pengolahan sidat, budidaya lobster. Pengumpulan data sekunder adalah dengan melakukan pengumpulan data informasi dari data perusahaan, kemudian studi pustaka dari berbagai literatur tentang proses produksi ikan sebagai pelengkap dan pembanding dalam penulisan laporan.

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhan Ratu
Palabuhan Perikanan Nusantara Palabuhan ratu Sukabumi Jawa Barat, merupakan salah satu pelabuhan perikanan terbesar di pantai selatan Jawa; bahkan terbesar di Jawa Barat. Tahun 2008, produksi ikan di pelabuhan ini mencapai 8.836,943 ton dengan nilai produksi Rp78.151.806.675,00 (PPNP 2009). Lokasi palabuhan ini juga sangat strategis, karena terletak di daerah wisata bahari yang memiliki aktivitas cukup tinggi di wilayah ini. Produksi ikan yang dihasilkan, selain mensuplai kebutuhan lokal, juga kota-kota Jakarta, Bandung, Bogor, Sukabumi, Propinsi Banten, serta tujuan ekspor. Pelabuhan ini akan dikembangkan menjadi pelabuhan perikanan samudera (tipe A) dan akan mengembangkan industri perikanan (industri penangkapan dan pengolahan) dan ekspor perikanan (Mahyuddin 2007).
Palabuhan Perikanan Nusantara Palabuhan Ratu berdiri sejak tahun 1976. Kegiatan yang ada di pelabuhan perikanan nasional pelabuhan ratu meliputi penangkapan, penjualan, dan pengolahan. Dominasi hasil tangkapan pelabuhan ratu adalah ikan tuna. Ikan tuna merupakan tangkapan andalan untuk diekspor. Komoditas hasil laut lain yang di tangkap disana adalah ikan cucut, layur, bacang-bacangan, kakap merah, cumi, sotong, rajungan, lobster dan kerang-kerangan. Daerah penangkapan komoditas tersebut diperoleh diarea sekitar pelabuhan ratu, terletak pada 7o LU–11o LS. Waktu penangkapan terbatas alam dengan kata lain hasil dari penangkapan bergantung pada cuaca dan juga bergantung pada banyak atau tidaknya ikan tersebut. Walau sanitasi di PPN pelabuhan ratu belum sesuai dengan standarisasi, Palabuhan Perikanan Nusantara Palabuhan Ratu sudah melakukan sterilisasi di tempat pelelangan ikan dengan anti bakteri. Aspek kesesuaian atau tidaknya sanitasi dengan standarisasi yang terdapat pada pelabuhan ratu, salah satunya disebabkan oleh kurang sadarnya masyarakat sekitar akan pentingnya menjaga kebersihan.
Palabuhan Ratu ditunjuk sebagai pusat pengolahan sebagian besar ikan tuna. Jenis-jenis ikan tuna yang sering ditangkap di pelabuhan ratu adalah tuna mata besar, tuna sirip kuning dan tuna sirip biru. Pelabuhan ratu juga sering di kunjungi oleh ibu-ibu dharma bhakti untuk mengolah ikan-ikan menjadi produk olahan yang komersil.
Pelabuhan Ratu juga terdapat penambahan teknologi penangkapan seperti pancing ulur yang tersusun dari berbagai macam alat tangkap. Pancing dumba adalah salah satu penambahan teknologi penangkapan denagn sasaran utama ikan tuna. Ikan kecil seperti tongkol dan tuna biasanya untuk memenuhi kebutuhan olahan konsumen dan suplai ke berbagai kota dan daerah. Kegiatan ekspor import yang terjadi, Uni Eropa memiliki aturan kelegalan fishing seperti harus memiliki SIUP (Surat Izin Untuk Penangkapan dan Perdagangan) yang diberlakukan sejak 1 Januari 2010. KKP dipimpin oleh orang-orang yang hebat dibidangnya termasuk civitas akademik Institut Pertanian Bogor (IPB). Orang – orang tersebut adalah Dr. Bustami pada periode 1997-2007 dan pada periode 2007 sampai sekarang dipimpin oleh Ir. Arief.

3.2 Jenis-jenis Ikan
Berdasarkan wawancara terhadap pedagang yang kami lakukan di TPI (tempat pelelangan ikan) Pelabuhan Ratu. Kami menemukan beberapa jenis ikan, diantaranya adalah ikan tongkol, ikan layur, ikan kepe-kepe, ikan kakap merah, ikan tuna, dan ikan cakalang. Ikan yang terdapat disana sebagian besar ditangkap dari perairan sekitar. Alat tangkap yang biasa digunakan bermacam-macam, diantaranya menggunakan jaring dan alat pancing. Alat tangkap yang sering digunakan adalah menggunakan jaring. Proses transportasinya adalah pertama ikan yang ditangkap oleh nelayan menggunakan alat pancing kemudian dibawa keatas kapal diberi penanganan yang baik seperti pencucian ikan menggunakan air laut, setelah itu ikan dimasukkan kedalam box berisi es yang suhunya sudah disesuaikan. Ikan yang sudah dimasukkan box, dibawa ke pelelangan kemudian terjadi tawar menawar nelayan dengan pengecer. Jika tawar menawar selesai para pedagang ecer menjajakan dagangannya lalu terjadilah jual-beli antar pengecer dengan konsumen.
Menurut hasil wawancara dengan para pedagang, kami peroleh informasi mengenai kendala yang dihadapin para pedagang. Kendala yang dihadapin oleh para pedagang adalah pembeli. Jika pembeli sedang ramai, maka keuntungannya pun akan besar. Pembeli akan ramai biasanya jika bertepatan dengan hari-hari besar, diantaranya hari raya Idul Fitri, Idul Adha, atau pun hari Natal. Menurut pedagang yang kami wawancarai, ikan yang lebih banyak dibeli dan cepat laku adalah ikan layur. Ikan-ikan yang kami temui di tempat pelelangan ikan Pelabuhan Ratu sangat banyak dan beragam, diantaranya adalah:
3.2.1 Ikan Tongkol
Ikan Tongkol Menurut Saanin (1968), klasifikasi Ikan Tongkol adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Class : Pisces
Sub Class : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Family : Scombridae
Genus : Euthynnus
Species : Euthynnus affinis
Ikan tongkol terklasifikasi dalam ordo Goboioida, family Scombridae, genus Euthynnus, spesies Euthynnus affinis. Ikan tongkol masih tergolong pada ikan Scombridae, bentuk tubuh seperti betuto, dengan kulit yang licin .Sirip dada melengkung, ujngnya lurus dan pangkalnya sangat kecil. Ikan tongkol merupakan perenang yang tercepat diantara ikan-ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip punggung, dubur, perut, dan dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh, sehingga sirip-sirip ini dapat dilipat masuk kedalam lekukan tersebut, sehingga dapat memperkecil daya gesekan dari air pada waktu ikan tersebut berenang cepat. Belakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang kecil-kecil yang disebut finlet (Djuhanda 1981).
Ikan tongkol merupakan penghuni hampir seluruh perairan Asia. Di indonesia, ikan ini banyak membentuk gerombolan-gerombolan besar terutama di perairan indonesia timur dan samudra Indonesia. Termasuk ikan pelagis perenang cepat sehingga untuk menangkapnya alat yang di gunakan harus di operasikan dengan kecepatan yang memadai (kriswanto 1986).
Ikan tongkol merupakan salah satu sumberdaya hayati laut di Indonesia yang memiliki potensi ekonomi cukup baik di pasaran, begitu juga di kawasan perairan Pelabuhan Ratu. Akan tetapi saat ini belum ada pengkajian yang lengkap mengenai berbagai aspek potensi atau persediaan ikan tongkol tersebut. Alat tangkap payang di Pelabuhan Ratu menangkap ikan-ikan pelagis terutama dari jenis-jenis tongkol (Auxis sp.), ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan hasil tangkapan yang terbesar dan pada umumnya tertangkap sepanjang tahun. Ikan tongkol abu-abu tertangkap sepanjang tahun, sdangkan hasil tangkap maksimum terjadi antara bulan Mei-November. Jenis tongkol yang lain adalah Lisong (bahasa nelayan Pelabuhan Ratu).
Ikan yang paling banyak ditemui di tempat pelelangan ikan pelabuhan ratu adalah ikan tongkol, karena hasil tangkapan bisa sampai 1 ton per hari. Ikan tongkol ini dijual sampai 1 minggu, selama waktu penjualan tersebut ikan diawetkan dengan menggunakan es. Ikan tongkol juga lebih banyak ditemukan dalam bentuk pemindangan yang dijajahkan pedagang disekitar tempat pelelangan ikan pelabuhan ratu.
3.2.2 Cumi-cumi
Klasifikasi Cumi-cumi menurut Sarwojo (2005). adalah :
Nama latin : Loligo chinensis
Phylum : Moluska
Kelas : Cephalopoda
Ordo : Teuhoidea
Genus : Loligo
Species :Loligo chinensis
Cumi-cumi (Loligo sp.) termasuk binatang lunak (Phylum Mullusca) dengan cangkang yang sangat tipis pada bagian punggung. Cumi-cumi tubuhnya lunak tetapi bisa dapat membentuk cangkang (Shell) dari kapur. Cumi-Cumi cangkangya hanya berupa kepingan kecil dan terdapat di dalam tubuhnya. Deskripsi mengenai Cumi-cumi (Loligo sp.) yaitu memiliki badan bulan dan panjang, bagian belakang meruncing dan dikiri kanan terdapat sirip berbentuk segitiga yang panjangnnya kurang lebih 2/3 panjang badan. Sekitar mulut terdapat 8 tangan yang agak pendek dengan 2 baris lubang penghisap ditiap tangan dan 2 tangan yang agak panjang dengan 4 baris lubang penghisap. Terdapat tulang di bagian dalam dari badan, warna putih dengan bintik-bintik merah kehitam-hitaman sehingga kelihatan berwarna kemerah-merahan, panjang tubuh dapat mencapai 12-16 inci atau 30-40 cm. Badan Cumi-cumi licin dan tidak bersisik sehingga praktis seluruh tubunya dapat dimakan (Rodger 1991).
Tubuh Cumi-cumi dibedakan atas kepala, leher dan badan. Kepala terdapat mata yang besar dan tidak berkelopak. Mata ini berfungsi sebagai alat untuk melihat. Masih di dekat kepala terdapat sifon atau corong berotot yang berfungsi sebagai kemudi. Jika ingin bergerak ke belakang menyempurkan air kearah depan, sehingga tubuhnya tertolak kebelakang. Sedangkan gerakan maju ke depan menggunakan sirip dan tentakelnya (Sarwojo 2005).
Cumi-cumi merupakan penghuni semi pelagis atau Domersal pada daerah pantai dan paparan benua sampai kedalaman 400 m. Hidup bergerombol atau soliter baik ketika sedang berenang maupun pada waktu istirahat. Beberapa spesies ini menembus sampai perairan payau. Melakukan pergerakan diurnal yang berkelompok dekat dengan dasar perairan pada saat siang hari dan akan menyebar pada malam hari. Bersifat fototaksis positif (tertarik pada cahaya), oleh karena itu sering ditangkap dengan menggunakan alat bantu cahaya (Roper et. al, 1984).
3.2.3 Ikan Tuna
Klasifikasi ikan tuna menurut Saanin, 1985 adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Teleostei
Subkelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Subordo : Scombridei
Family : Scombridae
Genus : Thunnus
Spesies :Thunnus albacores (yellowfin tuna)
Thunnus obesus ( bigeye tuna)
Thunnus alalunga ( albacore)
Thunnus tonggol (longtail tuna)
Thunnus maccoyii (Southern bluefin tuna)
Ikan Tuna mempunyai bentuk badan seperti cerutu, menandakan kecepatan dalam pergerakannya. Ikan ini termasuk ke dalam kelompok pelagis besar dan sebagian besar meiliki jari-jari tambahan (finlet) dibelakang punggung dan dubur yang berwarna kuning cerah dengan warna pingiran gelap.
Potensi pelagis besar termasuk tuna secara nasional mencapai 1,17 ribu ton. Dalam Statistik Perikanan Indonesia, “tuna” digunakan sebagai nama group dari beberapa jenis tuna besar ( Thunnus sp., seperti yellowfin tuna, big eye, southern bluefin tuna, dan albacore), dan jenis ikan mirip tuna (tuna like species) seperti marlins dan swordfish. Skipjack tuna sering digolongkan sebagai “cakalang”, sedangkan “tongkol” umumnya digunakan untuk jenis eastern little tuna (Euthyus spp). Frigate dan bullet tuna (Auxis spp) dan longtail tuna (Thunnus tonngol). (Akhmad 2005).
3.2.4 Ikan Cakalang
Klasifikasi ikan cakalang menurut Matsumoto et al. (1984) adalah sebagai
berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Teleostomi
Ordo : Perciformes
Famili : Scombridae
Genus : Katsuwonus
Spesies : Katsuwonus pelamis
Cakalang memiliki tubuh fusarium, memanjang dan agak bulat, tapis insang (gill net) berjumlah 53-65 pada helai pertama. Mempunyai 2 sirip punggung yang terpisah. Pada sirip punggung pertama terdapat 14-16 finlet dan sirip punggung kedua terdapat 7-9 finlet. Badan tidak bersisik kecuali pada badan danlateral line terdapat titik-titik kecil. Bagian punggung berwarna gelap disisi bawah dan perut keperakan dengan 4-6 buah garis-garis berwarna kehitaman (gelap) yang memanjang pada bagian sepenjang badan (Matsumoto et al. 1984). Cakalang mempunyai ukuran panjang 50-70 cm dan berat 1500-5000 g, dengan perbandingan rata-rata untuk setiap bagian tubuh adalah sebagai berikut : daging putih 1-2 %, daging merah 10 %, kepala 11-26 %, insang 3,3 %, isi perut 6,6 %, hati 0,9-3,5 %, ekor dan sirip 1,5-2,5 %, tulang 8,1-11,1 % dan kulit 3,8-6,6 % (Garwan 2009).
Menurut Suseno (2007) meyatakan bahwa suhu yang ideal untuk ikan cakalang antara 260 C – 32 0C, dan suhu yang ideal untuk melakukan pemijahan 28 0C – 29 0C dengan salinitas 33 % , Sedangkan menurut Dahuri (2003) cakalang hidup pada temperature antara 16 0C – 30 0C dengan temperatur optimum 28 0C. Ikan cakalang menyebar luas diseluruh perairan tropis dan sub tropis pada lautan Atlantik, Hindia dan Pasifik, kecuali laut Mediterania. Penyebaran ini dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu penyebaran horizontal atau penyebaran menurut letak geografis perairan dan penyebaran vertikal atau penyebaran menurut kedalaman perairan (Suseno 2007).
Daging ikan cakalang segar mempunyai komposisi kimia yang terdiri dari kadar air 70,40 %, kadar lemak 1,81 %, kadar protein 21,45 %, kadar abu 1,27 % dan kadar serat kasar 1,81 %. Ikan cakalang juga mengandung histidin yang tinggi yaitu 13,4 ppm daging (Garwan 2009).
Ikan cakalang mengandung protein yang cukup tinggi dan komposisi asam aminonya tidak sama dengan hewan-hewan darat. Ditinjau dari kandungan asam aminonya, maka protein ikan diklasifikasikan sebagai sumber protein yang bermutu tinggi sebab mengandung asam amino esensial yang lengkap. Protein hewani disebut juga protein yang lengkap dan bermutu tinggi karena mempunyai asam amino esensial yang lengkap dan susunannya mendekati apa yang diperlukan oleh tubuh dan daya cernanya tinggi sehingga jumlah yang dapat diserap oleh tubuh juga tinggi. Histidin secara alami ditemukan pada kebanyakan hewan dan tumbuhan terutama yang tinggi proteinnya seperti ikan, unggas, keju dan biji gandum. Histidin adalah salah satu asam amino yang merupakan prekursor histamin. Pada umumnya histidin bebas merupakan histidin yang dihasilkan dari degradasi protein pada saat ikan tersebut mengalami pembusukan (Hartono 2005).

3.2.5 Ikan Layur
klasifikasi ikan layur menurut Saanin (1984), sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Pisces
Kelas : Teleostei
Ordo : Percomorphii
Famili : Trichiuridae
Genus : Trichiurus
Spesies : Trichiurus savala
Ikan layur jenis Trichiurus savala memiliki jari-jari keras pertama sirip dubur lebih panjang dari setengah mata. Jarak terkecil antara garis rusuk dan dubur lebih dari setengah jarak antara garis rusuk dan dasar sirip punggung. Ikan ini memiliki panjang 13 kali tingginya. Kulitnya tidak bersisik. Warna tubuhnya putih mendekati perak dan sedikit kekuning-kuningan. Mulutnya lebar dilengkapi dengan giginya kuat dan tajam, rahang bawah lebih besar dari rahang atasnya (Badrudin dan Wudianto 2005)
Ikan layur memiliki badan sangat panjang dan pipih seperti pita. Terdapat gigi yang kuat di kedua rahang gigi yang terletak dibagian depan rahang atas seperti taring runcing dan kuat. Sirip punggung panjang berawal dekat belakang kepal, bagian depan berduri keras yang kadang – kadang terpisah dengan bagian sirip yang berduri lemah oleh suatu lekukan yang mudah dilihat, bagian yang berduri keras lebih panjang daripada yang beduri lemah. Sirip dada mengecil menjadi seperti duri keras dengan jari – jari berdiameter atau tidak ada sama sekali, sirip dubur pendek, sirip ekor mengecil pada ujungnya, memiliki warna keperakan, dan sedikit gelap sepanjang punggungnya.
Daerah penyebaran untuk jenis ikan Layur yaitu tersebar di seluruh perairan Indonesia. Ikan layur merupakan penghuni dasar perairan dan pelagis. Melihat dari morfologi kepala, mulut dan gignya ikan layur tergolong jenis predator yang memangsa hewan – hewan lain yang berukuran lebih kecil dari tubuhnya seperti jenis krustaceae, cephalopoda, dan berbagai jenis ikan lainnya. Alat penangkapan yang biasa digunakan ialah trawl dasar, pancing ulur, jaring insang dan bubu (DKP 2004).
Ikan layur termasuk ke dalam ikan laut yang memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan lemaknya. Ikan ini memiliki 49% bagian yang dapat dimanfaatkan, dengan kata lain rendemen total ikan layur adalah sebesar 49%. Menurut Lestari dan Wirjodirjo (2009) komposisi kimia ikan layur dalam 100gr bagian yang dapat dimakan, yaitu: energi total 82 kkal, kandungan protein 18 gr, kandungan lemak 1 gr dan kandungan karbohidrat 0,4 gr. Komposisi kimai yang seperti ini menjadikan ikan layur terpilih sebagai salah satu komoditas ekspor ikan dari Indonesia. Target pasar luar negeri yang diincar untuk sektor ikan demersal terutama ikan layur adalah negara China dan Korea. Kedua negara ini sangat mempertimbangkan komposisi kimia ikan yang diimpornya terutama kandungan proteinnya. Berdasarkan komposisi kimianya, ikan layur termasuk salah ikan dengan kadar protein tinggi.
Ikan layur merupakan salah satu jenis ikan air laut yang ada di Indonesia. Ikan ini belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber pangan. Upaya peningkatan kesukaan dan pemanfaatan terhadap ikan ini adalah adanya diversifikasi menjadi produk yang digemari salah satunya adalah kerupuk opak. Kerupuk opak merupakan salah satu bentuk produk kerupuk yang cukup dikenal di daerah Sukabumi. Kerupuk opak dibuat dari singkong secara sederhana dan tidak harus menggunakan teknologi proses yang rumit, sehingga diterapkan dalam usaha skala kecil atau skala rumah tangga. Kerupuk opak ini dinilai mengandung protein tinggi dikarenakan penambahan daging ikan layur. Daging ikan layur yang dimanfaatkan dalam pembuatan kerupuk opak ini adalah 33,33% dari berat total ikan layur utuh (Salamah et al. 2008).
Produk lainnya yang dapat diperoleh dari pengolahan ikan layur adalah produk fermentasi hasil perikanan, salah satunya adalah picungan. Semua jenis ikan baik yang berukuran kecil maupun yang berukuran besar dapat digunakan sebagai bahan mentah pada pengolahan picungan. Sebagian besar bahan yang digunakan adalah ikan laut terutama ikan layang, ikan layur dan ikan pari, untuk itu pemanfaatan ikan layur sebagai bahan mentah produk fermentasi. Selain picungan, produk fermentasi lainnya yang dapat dibuat dengan memanfaatkan iikan layur adalah kecap ikan. Pembuatan kecap ikan secara fermentasi spontan dilakukan dengan menambahkan garam dalam konsentrasi tinggi sehingga lingkungannya sesuai untuk pertumbuhan mikroba yang berperan dalam proses fermentasi. Pembutan kecap ikan secara fermentasi spontan memiliki beberapa kelebihan yaitu nilai ekonomisnya tinggi, proses pengolahannya mudah dan murah serta bahan baku yang digunakan dapat berasal dari berbagai jenis ikan (Desniar 2007).
3.2.6 Ikan Kepe-kepe
Klasifikasi dari ikan kepe-kepe Chaetodon octofasciatus adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Ordo : Perciformes
Famili : Chaetodontidae
Genus :Chaetodon
Spesies :Chaetodon octofasciatus
Ikan kepe-kepe umumnya berukuran kecil, kebanyakan panjangnya 12 sampai 22 cm. Spesies terbesar, kepe-kepe bergaris dan kepe-kepe pelana, C. ephippium, tumbuh hingga 30 cm. Namanya merujuk pada tubuh yang berwarna terang dan berpola mencolok pada banyak spesies, dengan sentuhan warna hitam, putih, biru, merah, jingga, dan kuning. Namun beberapa spesies berwarna biasa saja.Banyak kepe-kepe yang ‘bintik mata’ di sisi tubuhnya serta pita gelap yang melewati mata mereka, mirip pola yang terlihat di sayap kupu-kupu.Pewarnaan terpecah ini di masudkan untuk mengaburkan tubuh ikan tersebut. Tubuhnya yang bulat pipih mudah dikenali di melimpahnya kehidupan terumbu karang, sehingga orang mengira bahwa warna mencolok itu dimaksudkan untuk komunikasi antarspesies.Ikan kepe kepe sirip punggung tidak terbagi-bagi, sirip ekornya membulat atau nampak terpotong tapi tidak bercabang. Kebanyakan ikan kepe-kepe ditemukan di perairan tropis, dangkal, di sekitar terumbu karang pada kedalaman kuran dari 18 meter (Fishbase 2005).
Ikan Kepe-kepe dapat digunakan sebagai indicator kondisi ekosistem terumbu karang, karena ikan tersebut merupakan penghuni karang sejati dan bergantung pada karang sebagai sumber energi dasar (Hutomo et al 1985).
3.2.7 Ikan Kakap merah
Klasifikasi ikan kakap merah (Lutjanus sp.) (Saanin 1968) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Famili : Lutjanidae
Genus : Lutjanus
Spesies : Lutjanus sp.
Ciri morfologi ikan kakap merah yakni memiliki warnayang beragam yaitu warna kuning kemerahan, merah tua kehitaman dan kuningkecoklatan. Ikan kakap merah memiliki bentuk badan yangmemanjang dan agak pipih, mulut terletak di bagian ujung kepala (terminal)serta memiliki beberapa gigi taring (canine) pada rahangnya. Sirip punggung tunggal dengan 9-12 jari-jari sirip keras dan9-17 jari-jari sirip lemah yang bercabang. Kakap merah memiliki sirip ekor dengan tiga sirip keras dan 7-14 sirip lemah bercabang (Badrudin et al. 2003). Jenis ikan kakap merah umumnya termasuk ikan buas, karena pada umumnya merupakan predator yang senantiasa aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal). Aktivitas ikan nokturnal tidak seaktif ikan diurnal (siang hari). Gerakkannya lambat, cenderung diam dan arah geraknya tidak dilengkapi area yang luas dibandingkan ikan diurnal. Diduga ikan nokturnal lebih banyak menggunakan indera perasa dan penciuman dibandingkan indera penglihatannya. Bola mata yang besar menunjukkan ikan nokturnal menggunakan indera penglihatannya untuk ambang batas intensitas cahaya tertentu, tetapi tidak untuk intesitas cahaya yang kuat (Iskandar dan Mawardi 1997)
Ikan kakap merah (Lutjanus spp.) merupakan salah satu jenis ikan laut yang bernilai ekonomis penting dan potensial dibudidayakan. Ikan kakap merah Lutjanus argentimaculatus termasuk dalam marga Lutjanus; suku : Lutjanidae, Anak bangsa : Percomorphi; bangsa : Perciformes; Anak Kelas : Ellasmobrancii; kelas : Chodrichthyes. Suku Lutjanidae terdiri dari 103 jenis, 39 jenis diantaranya tersebar di perairan Indo-Pasifik, 9 jenis di Pasifik selatan, 12 jenis di Atlantik Barat dan 5 jenis di Atlantik Selatan (Anderson 1987).
Kakap merah umumnya dibudidayakan dalam kurung apung di laut. Kurungan terapung adalah wadah atau tempat yang terbuat dari bahan jaring, diikat pada sebuah kerangka, dan digunakan untuk pemeliharaan ikan di perairan yang terbuka seperti teluk, danau dan waduk. Bentuknya dapat berbentuk empat persegi panjang atau silinder, ukuran mulai dari beberapa meter persegi sampai lebih dari seratus meter persegi. Ukuran mata jaring tergantung kepada ukuran awal ikan yang ditebar. Usaha budidaya ikan laut pada kurung apung ini memiliki keuntungan yaitu : memungkinkan penggunaan perairan yang tersedia secara maksimum dan ekonomis, mengurangi predator, populasi ikan mudah dikontrol, mudah dipindahkan bila terjadi hal yang membahayakan, mudah dipanen dan modal awal relatif lebih kecil (Purba 1990).
3.3 Pofil-profil Perusahaan
3.3.1 PT. Mitra Jaya
PT. Jaya Mitra yang bertempat di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat ini merupakan salah satu perusahaan pengekspor ikan tuna Indonesia. Produk yang di ekspor PT. Jaya Mitra berupa ikan tuna jenis yellow fin tuna (Thunnus albacore). Alat tangkap yang digunakan dalam proses penangkapan tuna yairu rumpon dan long line. Selain alat tangkap, alat yang digunakan selama berlayar adalah radio buy untuk mendeteksi lokasi alat pancing yang telah disebar 1-2 jam sebelumnya. Fasilitas yang diberikan oleh pemerintah diantaranya radar cuaca dan bantuan kapal. Umpan yang digunakan diantaranya cumi, layang, lemuru atau bandeng hidup. Apabila hasil produk Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan umpan PT. Jaya Mitra, maka perusahaan ini terpaksa mengimportnya, dari segi harga lebih murah umpan import, tetapi kualitasnya sama dengan umpan yang didapatkan dari dalam negeri. Kapal penangkap ikan biasanya berlayar selama ± 6 bulan. Hasil tangkapan per 6 bulan tersebut tidak menentu, apabila sudah ada ikan tuna yan tertangkap dalam kurun waktu kurang dari enam bulan, maka perusahaan akan mengirimkan kapal kolekting untuk menjemput ikan tersebut agar mutu dan kualitas ikan terjaga sampai ke negara tujuan ekspor. Kapasitas total kapal tangkapan yaitu sekitar 30-60 ton. Lama waktu penyimpanan yaitu sekitar 1-2 hari dari lokasi penangkapan.

3.3.2 PT. Asia Good Business (AGB)
Berdasarkan wawancara yang kami lakukan, diperoleh bahwa ikan yang berada dalam coldstorage dengan suhu yang sudah disesuaikan akan bertahan selama 18 bulan. Ikan yang berada di coldstorage tersebut akan diproduksi menjadi ikan pindang. PT tersebut dapat memproduksi hingga 5 ton per harinya. Pengeksporan yang dilakukan mencapai 12-200 ton/bln. Pekerja yang terdapat didalam PT AGB sebanyak 30 sampe 50 orang. Pekerjanya tersebut memiliki tugas yang berbeda-beda diantaranya adalah penyortiran, penimbangan, penyusunan, pengepakkan (penataan) didalam coldstorage.
PT AGB Pelabuhan Ratu merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang industri pembekuan ikan dan biota perairan lainnya seperti: lobster, cumi-cumi, dan gurita. Perusahaan ini berada dibawah koordinasi Badan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhan Ratu dalam kaitannya dengan masalah teknis, seperti: sewa tempat, penggunaan listrik, air, es, dan fasilitas lainnya. PT AGB Pelabuhan Ratu termasuk perusahhan yang cukup besar untuk wilayah kabupaten Sukabumi. Hal ini dapat terlihat dari kontribusi tingkat produksinya di wilayah kabupaten Sukabumisekitar 45%, status kepemilikan perusahaan berupa Persero, jumlah investasi yang dimiliki sekitar US $1.000.000, pemilik perusahaan terdiri dari lima orang dengan pembagian kerja yang jelas.
PT AGB Palabuhan Ratu adalah salah satu perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang bergerak dalam bisnis industri pembekuan dengan mengkhususkan diri di bidang ekspor. Kegiatan utama perusahaan adalah mengelola Gudang Pendingin. Cold storage atau penyimpanan beku berarti meletakkan produk yang sudah beku di dalam ruangan dengan suhu yang telah dipertahankan sama dan telah ditentukan sebelumnya (misalnya -25 0C). Pengawetan ikan dengan pembekuan (dengan suhu sampai -50 0C) akan mampu menghentikan kegiatan mikroorganisme. Pada suhu di bawah -10 0C proses pembusukan oleh bakteri terhenti. Pembekuan dan penyimpanan beku (cold storage) adalah cara terbaik untuk penyimpanan jangka panjang. Bila cara pengolahan dan pembekuan baik dan bahan mentahnya masih segar, maka akan dihasilkan ikan beku yang dicairkan (thawing) keadaannya masih mendekati sifat-sifat ikan segar. Membekukan produk sampai pada suhu -180C merupakan perlakuan bahan dalam industri pendinginan ikan.

3.3.3 Pemindangan
Pemindangan ikan merupakan salah satu upaya pengolahan dan pengawetan ikan secara tradisional menggunakan teknik penggaraman dan pemanasan. Pengolahan dilakukan dengan merebus atau memanaskan ikan dalam suasana tertentu di dalam wadah. Cara pemindangan ada tiga, yaitu pemindangan dalam larutan garam atau pemindangan cue, pemindangan garam, dan pemindangan presto. Jenis ikan yang bisa dipindang cukup beragam. Mulai dari ikan kecil hingga ikan besar dan dari ikan air tawar sampai ikan air laut (Anisah & Susilowati 2007).
Pindang air garam adalah suatu produk hasil hasil teknik pengolahan dan pengawetan ikan, dimana ikan dan garam tersusun dalam wadah dan dicelupkan ke dalam larutan garam mendidih dan direbus dalam jangka waktu tertentu, kemudian dilakukan pengurangan kadar air. Pindang garam adalah suatu produk hasil teknik pengolahan dan pengawetan ikan , dimana ikan dan garam yang telah tersusun dalam wadah perebusan yang telah diberi air kemudian direbus dalam jangka waktu tertentu dan pengurangan air (Widiastuti 2005).
Pembuatan pindang merupakan suatu cara pengolahan tradisional yang sangat sederhana yaitu merebus ikan dalam suasana bergaram selama jangka waktu tertentu di dalam suatu wadah (Ilyas dan Hanafiah 1980). Penggunaan garam khususnya untuk produk perikanan tampaknya masih diandalkan, karena garam tidak saja berfungsi sebagai pengawet yang baik, tetapi pada konsentrasi tertentu dapat memberikan citarasa serta dapat menjaga kelembutan daging ikan. Banyaknya garam yang digunakan tergantung dari ukuran ikan dan tingkat keasinan yang diinginkan. Untuk ikan yang berukuran sedang jumlah garam yang digunakan adalah 15% – 25% (Moeljanto 1965).
Tempat pemindangan yang kami datangi saat di Pelabuhan Ratu bernama pemindangan Hj Iroh. Tempat pemindangan tersebut memproduksi pemindangan secara tradisional. Penggunaan alatnya pun masih sangat sederhana, diantaranya masih menggunakan kayu bakar sebagai pemanas, menggunakan air dari sumur melalui menimba, dan lain sebagainya yang masih sangat tradisional. Berdasarkan wawancara yang kami lakukan, proses pemindangan yang terjadi ditempat tersebut melalui beberapa tahap. Diantaranya, ikan segar yang baru ditangkap dicuci bersih menggunakan air dengan membuang jeroan-jeroannya jika ikannya besar tapi jika ikan nya kecil tidak perlu dibuang jeroannya. Kemudian ikan yang sudah bersih di bungkus menggunakan kertas pada sisi perutnya. Menurut pekerja ditempat itu, fungsi dari kertas yang menutupi bagian badan ikan dimaksudkan agar ikan mudah untuk diambil. Proses selanjutnya ikan disusun kedalam sebuah wadah seperti ember besar sesuai dengan ukuran. Proses penyusunan itu dibarengi dengan pemberian garam pada tiap susunan hingga merata. Proses akhirnya adalah merebus ikan diatas tungku kayu bakar selama kurang lebih enam sampai tujuh jam lamanya.
Pemindangan Hj Iroh memproduksi pindang mencapai dua ton untuk satu kali produksi. Proses produksi yang dilakukan tergantung banyak atau tidaknya ikan yang tersedia. Biaya produksi yang harus dikeluarkan setiap dua ton nya adalah sekitar 30-40 juta. Ikan yang digunakan dalam proses pemindangan diantaranya, ikan tongkol, ikan tuna, ikan tembang, ikan lising, ikan cakalang, ikan semar, dan ikan bandeng. Pindang ikan yang paling digemari oleh konsumen adalah pindang ikan tongkol dan tuna. Ikan pindang tersebut dapat tahan hingga setengah bulan. Harga yang dipatok adalah sekitar 600.000/wadah besar. Ikan pindang Hj Iroh tersebut biasanya dipasok ke Cianjur, Bandung, Garut, dan sekitarnya.
Selain pemindangan Hj Iroh, kami pun sempat mewawancarai seorang pedagang pindang ikan tongkol yang berada di dekat tempat pelelangan ikan. Beliau berkata, peluang penjualan pindang ikan itu lumayan baik, hanya saja semua bergantung pada pembeli. Jika sedang ramai maka pindang ikan akan habis sebanyak 2 ember dalam satu hari, tetapi jika tidak ramai hanya habis setengah sampai satu ember. Pindang ikan tongkol tersebut dijual seharga Rp.35.000 untuk ukuran besar, Rp.25.000 untuk ukuran sedang, dan Rp.15.000 untuk ukuran kecil.

3.3.4 Pembesaran Lobster
Lobster air tawar ber-genus Cherax dari famili parastacidae baru mulai dikembangkan untuk budidaya petani ikan diIndonesia pada tahun 2000. Hal ini disebabkan karena banyak masyarakat Indonesia yang masih belum mengenal sosok fisik lobster air tawar, padahal selain memiliki fisik yang menarik untuk dijadikan udang hias, lobster juga dapat digunakan untuk udang konsumsi yang harganya mahal sebagai penyedia protein hewani.
Kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha budidaya lobster air tawar merupakan permasalahan yang belum dapat dipecahkan oleh petani lobster. Kendala – kendala tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Belum banyak ilmu pengetahuan alam, khususnya biologi yang membahas berbagai spesies dalam lobster dihabitat aslinya
2. Belum berkembangnya pengetahuan tentang teknik adaptasi dalam usaha domestik lobster air tawar yang berasal dari habitat alam
3. Belum banyak diketahui teknik pemijahan udang lobster air tawar secara semi buatan
4. Masyarakat petani ikan belum banyak yang memahami teknik persiapan wadah dan media, penebaran benih, pemeliharaan benih, panen dan packingserta pengangakutan (Sukmajaya 2003).
Pelabuhan Ratu memiliki tempat yang diperuntuhkan untuk pengumpul lobster. Pengumpul lobster ini berfungsi untuk mengumpulkan lobster dari hasil tangkapan nelayan. Pengumpulan lobster dibarengi dengan pengumpulan kepiting, namun dengan jumlah yang lebih sedikit. Lobster yang berada ditempat pembesaran tersebut terdiri dari empat jenis, yaitu : lobster mutiara, lobster pasir hijau, lobster bambu, dan lobster batu atau lobster hitam. Lobster yang paling bagus mutunya dan harganya tinggi adalah lobster mutiara karena lebih enak dan disukai masyarakat, serta memiliki warna yang menarik. Produksi lobster meningkat pada bulan Agustus-September karena biasanya lobster mengalami pemijahan saat bulan tersebut sehingga melimpah.
Pemilik lobster mempunyai ± 12 petak kolam yang berisi lobster, dengan luas sekitar 2 x 3 meter perpetak yang disusun secara berundak-undak. Air yang digunakan adalah air laut dengan ditambahkan pasir laut sebagai penyaring, hal ini dilakukan sebagai aerasi agar kualitas air tetap terjaga. Sirkulasi air terus dilakukan untuk menjaga kandungan oksigen yang cukup bagi lobster. Menurut Bachtiar, 2006 apabila kualitas air tidak bagus, lobster malas makan sehingga pertumbuhannya terhambat. Makanan lobster yang diberikan adalah udang segar.
Sistem pengumpulan lobster diawali dari pengumpulan lobster hasil tangkapan nelayan yang sedikit, lalu digabungkan di kolam-kolam berdasarkan jenis sampai jumlahnya sesuai dengan banyaknya pesanan dan stok. Lobster yang sudah terkumpul banyak lalu didistribusikan atau diekspor. Negara tujuan ekspornya yaitu ke Jepang, Cina, Korea, Amerika, Malaysia dan Hongkong. Selain diekspor, lobster ini ada juga yang didistribusikan ke Jakarta.

3.3.5 Budidaya dan Pengolahan Ikan Sidat di SLK (Stasiun Lapang Kelautan)
Ikan sidat menjadi komoditi incaran utama pembudidaya, seiring dengan potensialnya pasar ikan sidat di luar negeri khususnya negara Jepang, sejumlah masyarakat Cipatuguran, Kecamatan Palabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat gencar melakukan usaha budidaya ikan sidat. Untuk membudidayakan ikan tersebut pihak negara Jepang melalui PT. Jawa Suisan Indah melakukan investasi pembudidaya ikan sidat terbesar didunia.
Sebelum mendapatkan investor asal Jepang, ilmuwan Indonesia dan Jepang terlebih dulu melakukan penelitian di Stasiun Lapang Kelautan (SLK) Institut Pertanian Bogor (IPB) di Cipatuguran, Palabuhan Ratu. Penelitian ikan ini akan dilakukan selama lima tahun terhitung sejak tahun 2009. Peluang ikan sidat diluar negeri , saat ini dinilai cukup tinggi, terutama di nagara Jepang, permintaan ikan sidat untuk kebutuhan dunia mencapai 300.000 ton/tahun. khusus negara Jepang permintaannya mencapai 120.000 ton/tahun. Oleh karena itu Jepang merupakan pasar terbesar untuk pasar ikan Sidat. Bahkan potensi Indonesia untuk pemenuhan kebutuhan ikan sidat mencapai 2.000 ton/tahun. menurut informasi yg di dapat dari negara Jepang, harga ikan sidat yang sudah siap saji mencapai Rp 300.000/Kg.
Ikan sidat kini menjadi salah satu peluang bisnis yang sangat besar. Ekspor ikan sidat terutama ke Macau, Taiwan, Jepang, China dan Hongkong. Potensi pasar negara lain yang belum digarap antara lain Singapura, Jerman, Italia, Belanda dan Amerika Serikat.Peluang ekspor dari Indonesia kian terbuka lebar. Produksi ikan sidat dari Jepang dan Taiwan mulai terbatas karena kekurangan bahan. Kedua negara otomatis mengurangi ekspor, sedangkan produksi ikan sidat dari China diketahui menggunakan zat kimia.
Ikan Sidat (anguilla bicolor), termasuk famili Anguillidae, ordo Apodes. Di Indonesia diperkirakan paling sedikit terdapat 5 (lima) jenis Ikan Sidat, yaitu : Anguilla encentralis, A. bicolor bicolor, A. borneonsis, A. Bicolor Pacifica, dan A. celebensis. Ikan Sidat tumbuh di perairan tawar (sungai dan danau) hingga mencapai dewasa, setelah itu Ikan Sidat dewasa beruaya ke laut dalam untuk melakukan reproduksi. Larva hasil pemijahan akan berkembang, dan secara berangsur-angsur terbawa arus ke perairan pantai. Ikan Sidat termasuk ikan karnivora. Di perairan umum Ikan Sidat memakan berbagai jenis hewan, khususnya organisme benthik seperti crustacea (udang dan kepiting), polichatea (cacing, larva chironomus dan bivalva serta gastropods). Aktivitas makan Ikan Sidat umumnya pada malam hari (nokturnal).

4 SIMPULAN DAN SARAN

Pelabuhan ratu adalah salah satu tempat yang memiliki tempat pelelangan ikan, pembudidayaan sidat, pemindangan, pembesaran lobster, tempat pengeksporan ikan tuna dan tempat pembekuan ikan. Ditempat pelelangan ikan kami menemukan beberapa jenis ikan, diantaranya ikan tuna, ikan tongkol, ikan cakalang, ikan kakap, ikan layur dan lain sebagainya. Perusahaan yang menaungi pengeksporan ikan tuna adalah PT. Mitra Jaya, PT. Asia Good Business (AGB) untuk perusahaan yang bergerak dibidang pembekuan ikan. Pemindangan Hj.Iroh, pembesaran lobster Hj.Badri, budidaya dan pengolahan ikan sidat di SLK (stasiun lapang kelautan). Masing-masing dari perusahaan tersebut bergerak dibidang perikanan dan kelautan. Setiap perusahaan memiliki bagian atau tugas yang berbeda-beda namun memiliki satu tujuan yang sama yaitu lebih mengembangkan dunnia perikanan dan kelautan dilain bidang.
Semoga difieldtrip pengantar bahan baku yang akan datang dapat lebih mengunjungi banyak tempat yang tersedia dipelabuhan ratu khususnya yang berkaitan di dunia perikanan dan kelautan, sehingga para praktikan dapat lebih mengenal dibidang tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2004. Klasifikasi Ikan Laut Untuk Statistik Perikanan Tangkap. Jakarta: Direktorat Jendral Perikanan Tangkap.
[KKP] Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2009. Sistem Informasi Pemasaran dan Pengolahan Ikan Berbasis Pelabuhan Perikanan. http://www.kkp.go.id (19 November 2012).
[PPNP] Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu.2009. Statistik perikanan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu tahun 1993-2008. PPN Palabuhanratu Sukabumi. 205 hal.
Anderson, W.D. 1987. Systematics of the fishes of the family Lutjanidae (Perciformes; Percoidei) the snappers. In: J.J. POLOVIA and S. RALSTON (eds.) Tropical Snapper and Groupers; Biology and Fisheries Management. Westivew Press. USA: 31 pp.
Badarudin dan Wudianto. 2005. Biologi, Habitat serta Penyebaran Ikan Layur. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara.
Badrudin,Bambang S, Rahmat E. 2003. Kakap Merah.Jakarta : Penebar Swadaya.
Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Bandung: Armiko.
Fauzi Akhmad.2005. Kebijakan Perikanan dan Kelautan Issue, Sintesis, dan Gagasan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Fishbase.2005.www.fishbase.org
Garwan, R. 2009. Perkembangan histamin selama proses fermentasi penyimpanan produk bekasang jeroan ikan cakalan (Katsuwonus pelamis). [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Hartono, R. 2005. Perngaruh pemberian kalium sorbat dan natrium klorida pada pembentukan histamin ikan cakalang. Media Gizi Keluarga 29 (1): 81-89.
Hutomo et al.1985.Sumberdaya Ikan Terbang.Jakarta:Lembaga Oseanografi LIPI.
Ilyas, S dan Hanafiah, T.A.R. 1980. Study on salting-boiling of fish: 1.some changes occurring during processing of brine-boiled fish. In: Pindang Processing Technology. (In Indonesia). Proc. Seminar No. 2, Jakarta.
Iskandar, B.H. dan W. Mawardi. 1997. Studi Perbandingan Keberadaan Ikanikan Karang Nokturnal dan Diurnal Tujuan Penangkapan di Terumbu Karang Pulau Pari Jakarta Utara. Bulletin PSP 6 : 1. Hal 17-27.
Kriswanto. 1986. Mengenal Ikan Air Tawar. Jakarta: Penerbit BP Karya Baru.
Lestari I dan Wirjodirjo B. 2009 Analisis kesejahteraan pelaku industri pengolahan ikan pada komunitas klaster masyarakat nelayan pesisir: sebuah pendekaran dinamika sistem. Institut Teknologi Sepuluh November.
Mahyuddin, B. 2007. Pola pengembangan pelabuhan perikanan dengan konsep tryptique portuaire : Kasus Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. [Disertasi]. Pasca Sarjana TKL. IPB. Bogor.
Matsumoto WM, Skillman RA. Dizon AE. 1984. Synopsis of Biological Data on Skipjack Tuna, Katsuwonus pelamis. NDAA Technical Report NMFSCircular.
Nurjanah, Abdullah A, Kustariyah. 2011. Pengetahuan dan Karakteristik Bahan Baku Hasil Perairan. Bogor: IPB Press.
Purba R. 1990. Biologi ikan kerapu, Epinephelus taivina (Farskal) dan catatan penyebab kematiannya. Oseana XV (1) :29-42.
R Moeljanto.1965. Prinsip-prinsip dasar pengawetan ikan setjara tradisionil. Jakarta: Departemen Perikanan dan Pengolahan Laut R.I
Rodger, R. W. A. 1991. Fish Facts An Ikkustrated Guide To CommercialSpecies. Van Norstrand Reinhold. New York. 162-163pp
Roper, C.F.E., M.J Sweeney and C.E Neuen,1984. Chephalopods of The Word. And Annottated and lllustrated Ratalogue of Spesies of Interest to Fisheries. FAO Species Catalogu
Saanin H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Jilid I dan II. Bandung: Bina Cipta.
Saanin H. 1968. Taksonomi dan Kuntji Indentifikasi Ikan. Bandung: Binatjipta.
Saanin H.1985.Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan.Jakarta:Bina Cipta.
Salamah E, Susanti MR, Purwaningsih S. 2008. Diversifikasi produk kerupuk opak dengan penambahan daging ikan layur. Buletin Teknologi Hasil Perikanan 11 (1):53-64.
Sarwojo. 2005. Serba – Serbi Dunia Molusca. Malang. Indonesia
Sukmajaya Ir. Yade. 2003. Lobster Air Tawar Komoditas Perikanan Prospektif. Tangerang: PT. Agro Media Pustaka.
Suseno. 2007. Menuju Perikanan Berkelanjutan. Jakarta: Cidesindo.

LAMPIRAN

Gambar 1 PPN Pelabuhan Ratu
Gambar 2 PT. Mitra Jaya
Gambar 3 PT.Asia Good Businnes

Gambar 4 Pemberi materi
Gambar 6 Ikan Tongkol

Gambar 7 Produk didalam Cold Storage

Gambar 8 Proses Penggaraman pada Pemindangan
Gambar 9 Proses Pemindangan
Gambar 10 Pemilihan Lobster
Gambar 11 Ikan Sidat
Gambar 12 Tempat Perbesaran Ikan Sidat
Gambar 13 Hasil Pengolahan Ikan Sidat
Gambar 14 Alat Pengolahan Ikan Sidat
Gambar 15 Wawancara dengan pedagang Ikan

Gambar 16 Wawancara dengan Pedagang Pindang Tongkol

Gambar 17 Aktivitas Pemindangan Tradisional

Gambar 18 Budidaya Lobster

Gambar 19 Ikan Kantong Semar( kanan) dan Layur (Kiri)

kesabaran akan memuai kebahagiaan
Posted on October 1st, 2011 at 2:40 am by ATIKA NASTAINA UTAMI

kebahagiaan abadi akan didapat dari sebuah kesabaran

Hello world!
Posted on October 1st, 2011 at 1:52 am by ATIKA NASTAINA UTAMI

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!